Minggu, 25 Desember 2011

hujan


Pagi ini, gemercik air hujan membangunkanku. Bukan kicauan burung seperti biasanya. Hujan menyambut datangnya hari ini dengan sapuan kabut bersama datangnya butiran-butiran air nan sejuk itu. Hujan pagi ini membuatku sadar, betapa Tuhan sangat berbaik hati kepadaku dan semua makhluk ciptaan-Nya. Tuhan menurunkan hujan pagi ini dengan segudang anugerah yang ikut menetes bersama butiran air itu. Hujan ini membuat pohon-pohon itu kembali hidup. Hujan ini membuat burung-burung tetap berada di sarang mereka, menjaga malaikat-malaikat kecil yang bersiap menyambut dunia baru.

Hujan ini, mengingatkanku dengan kenangan indah masa lalu yang tak mungkin terulang lagi. Masa indah yang terekam sangat jelas di benakku. Akan indahnya hujan bersamanya. Lima tahun telah berlalu, kenangan itu tak kan terhapus begitu saja. Dimana saat diriku yang masih belia mengenal apa arti cinta. Cinta yang tulus datang begitu saja, menyeruak di antara kebahagian saat diriku mulai beranjak dewasa.


Selasa, 20 Desember 2011

maaf


Maaf atas semua kekacauan yang ku buat selama ini. Maafkan aku, aku tak tau harus berkata apa. Aku bingung, ini terlalu rumit untukku. Maaf telah membuatmu terlalu lama menunggu, maaf. Aku tak tau harus bagaimana. Maaf..
Dia yang dulu selalu ada di sisiku kini telah pergi. Kau datang di saat yang tepat. Saat aku mulai kacau dengan semua itu. Saat aku merasa sendiri setelah kepergiannya. Maafkan aku yang telah melukaimu.
Aku tak tau perasaanku untukmu. Aku bingung dengan semua ini...
Ini terlalu kacau untukku. Kau buatku merasa ada saat itu, kau buatku merasa dibutuhkan, kau buatku selalu tertawa dengan candaanmu. Kau datang di saat yang tepat ketika ku terluka...
Tapi ini bukan cinta, bukan rasa sayang... Perasaanku berbeda, aku tak yakin ini apa, tapi aku tak tau, aku mencoba untuk mencintaimu..
Dengan segala keraguaan ini aku mencoba, mencoba membuatmu bahagia, mencoba membuatmu tak terluka sepertiku. Tapi ini semua terlalu sulit. Tak mudah bagiku melupakannya sekeras apapun aku mencoba, Maaf....
Maaf atas semua kebohonganku padamu, aku ingin kau bahagia tak sepertiku yang terluka. Aku tau kau terluka, entahlah tapi aku menganggapmu rapuh...
Maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama. Aku tau perasaanku, tapi aku tak tau bagaimana cara aku harus mengungkapkannya. Aku takut kau terluka..
maaf atas semua kekacauan ini, maafkan aku...
maaf....

dia


Sadarkan aku, sadarkan aku bahwa dia telah pergi dan tak mungkin kembali. Sadarkan aku!Sadarkan aku bahwa dia telah tiada. Dia yang dulu selalu ada di hati kecilku telah lama pergi. Tak seharusnya aku menginggatnya lagi. Tak seharusnya aku masih mengharapkan dia kembali. Dia tak mungkin kembali. Sadarlah!!!!!!!

Relakan dia pergi, sudah seharusnya dia pergi. Tuhan mengambilnya dariku bukan untuk membuatku sengsara, tapi untuk membuatku sadar bahwa dia bukan milikku. Memang sudah seharusnya dia pergi. Dia sudah terlalu lama menanggung sakitnya itu. Sakit yang tak terobati. Sakit yang selalu menggerogoti tubuhnya dan membuatnya tak berdaya. Bukan keinginannya dia pergi, pergi untuk selamanya. Tapi Tuhanlah yang berkehendak. Bukan dia...

Dia yang candanya selalu membekas dalam memoriku, dia yang selalu memberiku semangat, dia yang membuat hariku begitu indah, dia yang selalu mengucap kata-kata bak penyair itu telah pergi. Kini, harus ku relakan kepergiannya. Walau kenangan-kenangan manis itu akan selalu tersimpan di hati ini. Dialah yang membuatku sadar akan dunia yang begitu indah ini. Jika hidupnya hanya sampai sini, aku harus melanjutkan impian yang sempat kita bagi bersama. Untuknya, untukku, untuk dunia..

he is the first :)

luka


Aku berjalan tak berirama. Menuntun segala kepedihan yang mulai terasa. Dan segala penat yang terus menyeruak, mimpiku mulai berhenti di sana. Mimpi indah masa lalu yang tak kan tercapai. Tinta-tinta mulai menetes di antara goresan-goresan luka pena. Tak hanya kini, tapi masa lalu itu mulai kembali. Masa lalu sebelum kebahagiaan itu datang, memaksakan untuk menyerobot semua kebahagiaan yang telah kembali. Suram...

Aku berjalan tak henti, menerjang dinginnya badai nestapa yang tak kunjujng sirna. Hati kecilku meronta, meminta datangnya Dewi Fortuna. Tapi itu semua hanya angan belaka. Bukan tuk jadi kenyataan, kenyataan yang sebenarna...

Aku berjalan tak terkendali. Di antara kepedihan sang mentari yang merindukan pelangi. Hanya badai yang menampakkan diri. Menghalangi sinar mertari. Aku terus terlunta-lunta, berharap sinar kebahagiaan itu mulai ada. Hampa...

Aku berjalan di antara logika, bukan sebuah kenyataan yang ada. Tapi hanya teori kosong tak bermakna. Hatiku mulai beku, kehanggatan itu hampir sirna. terenggut dengan paksa..

Apakah aku akan tetap seperti ini?
Bagai si punuk merindukan bulan
Aku harus tetap melangkah
Melangkah pasti menerjang duri-duri karma
Aku ingin bahagia
Aku ingin seperti mereka
Aku harus bisa
Ya, karna aku memang bisa