
Aku berjalan tak berirama. Menuntun segala kepedihan yang mulai terasa. Dan segala penat yang terus menyeruak, mimpiku mulai berhenti di sana. Mimpi indah masa lalu yang tak kan tercapai. Tinta-tinta mulai menetes di antara goresan-goresan luka pena. Tak hanya kini, tapi masa lalu itu mulai kembali. Masa lalu sebelum kebahagiaan itu datang, memaksakan untuk menyerobot semua kebahagiaan yang telah kembali. Suram...
Aku berjalan tak henti, menerjang dinginnya badai nestapa yang tak kunjujng sirna. Hati kecilku meronta, meminta datangnya Dewi Fortuna. Tapi itu semua hanya angan belaka. Bukan tuk jadi kenyataan, kenyataan yang sebenarna...
Aku berjalan tak terkendali. Di antara kepedihan sang mentari yang merindukan pelangi. Hanya badai yang menampakkan diri. Menghalangi sinar mertari. Aku terus terlunta-lunta, berharap sinar kebahagiaan itu mulai ada. Hampa...
Apakah aku akan tetap seperti ini?
Bagai si punuk merindukan bulan
Aku harus tetap melangkah
Melangkah pasti menerjang duri-duri karma
Aku ingin bahagia
Aku ingin seperti mereka
Aku harus bisa
Ya, karna aku memang bisa
Bagai si punuk merindukan bulan
Aku harus tetap melangkah
Melangkah pasti menerjang duri-duri karma
Aku ingin bahagia
Aku ingin seperti mereka
Aku harus bisa
Ya, karna aku memang bisa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar